Mencari Bubur Samin di Masjid Darussalam Solo

Tradisi Bubur Samin di Masjid Darussalam Jayengan, Solo
Tradisi pembagian bubur samin khas Banjar di Masjid Darussalam Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu momen yang selalu dinantikan oleh warga setempat pada setiap bulan Ramadan. Tahun ini pun tidak berbeda, meskipun cuaca tak sepenuhnya mendukung.
Pada Kamis, 19 Februari 2026, hari pertama puasa Ramadan, warga berdatangan ke masjid tersebut. Bahkan hingga menjelang waktu berbuka puasa, antusiasme warga tetap tinggi. Hujan deras yang mengguyur sejak siang hari tidak menyurutkan semangat dan antusiasme mereka. Mereka menunggu dengan sabar saat bubur samin matang dan siap dibagikan.
Aroma gurih bubur samin yang tercium dari arah dapur masjid memberi hangat suasana. Meski hujan mengguyur, rasa antusiasme dan kebersamaan tetap terasa. Bubur samin adalah bagian dari tradisi yang memperkuat ikatan sosial dan budaya di tengah masyarakat Solo.
Pengalaman Warga Setia
Salah seorang warga Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Marsiyati, 70 tahun, tampak antusias dalam mengikuti momen pembagian bubur samin. Ia mengaku sebagai warga yang setia hadir di Masjid Darussalam setiap bulan Ramadan.
"Saya sudah sejak kecil selalu ke sini setiap Ramadan untuk bubur samin. Saya ambil berkahnya. Dari rasanya enak sekali, ngangenin (membuat rindu), bahkan sampai saya usia 70 tahun ini," ujarnya dengan senyum kecil.
Marsiyati adalah contoh dari banyak warga yang merasa terhubung dengan tradisi leluhur melalui sajian sederhana namun penuh makna ini.
Jumlah Porsi yang Dibagikan
Takmir sekaligus Panitia Ramadan Masjid Darussalam Jayengan, Nurcholis, menjelaskan bahwa pada Ramadan kali ini, sebanyak 1.500 porsi bubur samin dibagikan setiap hari kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, kami membagikan sekitar 1.500 porsi. Sekitar 1.200 porsi untuk masyarakat umum sore harinya dan 200–300 porsi dibagikan di masjid untuk buka puasa bersama,” ujar Nurcholis saat ditemui wartawan di Masjid Darussalam Jayengan, Kamis.
Tradisi berbagi bubur samin di Masjid Darussalam Jayengan telah berlangsung selama puluhan tahun sejak 1985. Tradisi tersebut telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) pada 2025. Menu bubur samin sendiri diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19.
Bahan dan Proses Memasak
Bubur Samin disiapkan dari bahan-bahan sederhana namun kaya rasa. Selain beras untuk bahan membuat bubur, ada potongan daging, sayuran seperti wortel dan bawang bombay, santan, serta empon-empon atau rempah yang diolah hingga bubur harum dan berwarna kecoklatan.
Nurcholis mengungkapkan bahwa setiap hari panitia menghabiskan 40-50 kilogram beras, 4 kilogram daging, serta sayuran seperti wortel dan bawang bombay. Untuk biaya operasional pelaksanaan tradisi bubur samin itu diperkirakan sekitar Rp 3 juta per hari.
"Proses memasak dimulai sejak pukul 11.00 WIB dengan mulai menyalakan kompor untuk merebus air, menanak, menumis bumbu, hingga memasukkan santan dan bahan lain," tutur Nurcholis.
Selain bubur samin, Nurcholis juga menyebutkan bahwa panitia menyediakan kopi khas Masjid Darussalam. Ini menjadi tambahan yang disambut baik oleh para pengunjung.
Daya Tarik yang Melampaui Batas Wilayah
Tidak hanya jamaah internal dan warga sekitar masjid, momen tersebut juga dinikmati oleh masyarakat dari luar Kota Solo. “Selain warga dari Solo sendiri, ada sekitar 50 persen warga yang hadir berasal dari luar Kota Solo, membuktikan daya tarik tradisi ini yang melampaui batas wilayah,” katanya.
Tradisi bubur samin di Masjid Darussalam Jayengan bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kebersamaan, kekayaan budaya, dan keberlanjutan nilai-nilai tradisional dalam kehidupan modern.
Post a Comment for "Mencari Bubur Samin di Masjid Darussalam Solo"
Post a Comment